Menyelami Ruh Diponegoro 16A, Suatu Catatan dari Lembaran Sejarah.
Oleh : Arby Tya Aprilianif Surahman
Wasekbid Politik Dan Demokrasi PB HMI
Kita yang mendengar dan membaca lembaran sejarah Jalan Diponegoro 16A adalah perjalanan yang menggetarkan dada sekaligus menggores hati. Dari tumpukan catatan kusam, kliping berita lama, dan jejak-jejak pemikiran para pendahulu, kita menemukan kisah epik tentang keberanian. Diponegoro 16A bukan sekadar tumpukan batu bata di sudut Menteng, melainkan kawah candradimuka di mana anak-anak muda dari pelosok negeri datang membawa mimpi besar, menantang zaman, dan mempertaruhkan masa depan.
Di ruang-ruang diskusi yang mengepul asap rokok dan dinginnya kopi malam, tempat dimana pusat perkaderan, konsolidasi politik, pemikiran, dan gerakan mahasiswa Islam di Indonesia.
Lokasi ini melahirkan dan menempa sejumlah tokoh nasional lintas bidang di tiga generasi berbeda, mulai generasi perintis, generasi pembaru hingga generasi reformasi, di sanalah tokoh-tokoh bangsa dilahirkan. Di antaranya Nurcholish Madjid (Cak Nur) cendikiawan muslim perintis, merumuskan gagasan Pembaruan Pemikiran Islam dan Pluralisme, tentu bukan sebagai dogma mati, melainkan sebagai pecut pembebasan. Di sana pula jejak-jejak pemikiran tokoh seperti Deliar Noer, menjadi perintis kajian akademik Islam politik dan mencatatkan sejarah intelektual gerakan Islam modern, hingga Agussalim Sitompul, tokoh sejarahwan internal yang menulis setiap kalimat sejarah HMI dengan sangat detail.
Di sudut menteng itu, gagasan diperdebatkan dan diuji. Ide-ide besar tentang kebangsaan, keislaman dan keadilan sosial dirajut tanpa rasa takut pada bayang-bayang moncong senjata rezim.
Namun, ketika mata ini beralih dari lembaran sejarah yang megah menuju panggung gerakan hari ini, dada kita teremas oleh pilu yang amat mendalam. Apa yang tersisa dari tempat sejarah yang begitu kita agungkan? Sungguh memilukan melihat bagaimana tempat yang dulu melahirkan deretan intelektual profetis, kini kerap terasa hening dari dialektika gagasan. Sangat menyayat hati menyaksikan bagaimana catatan perjuangan yang diurai dengan darah dan air mata, kini tidak jarang hanya dijadikan cerita lobi transaksional,
Di sinilah kita harus menyadari satu hakikat penting, Sekretariat PB HMI di Jalan Diponegoro 16A mungkin bisa berpindah tempat, digilas dinamika zaman, tetapi pikiran dan spirit intelektual yang lahir darinya tidak boleh ikut tergusur. Tembok bangunan bisa dirobohkan, alamat bisa berganti, namun cara berpikir yang kritis, kebebasan menguji gagasan, dan keberanian membela kebenaran harus tetap bersemayam di mana pun kader HMI menapakkan kaki.
Pertanyaan ini akhirnya menghujam jantung kita yang membaca sejarahnya, untuk apa kita membanggakan nama-nama besar masa lalu, jika kita membiarkan apinya padam di tangan kita sendiri? Mengembalikan "keaslian" gerakan HMI Dipo tidak cukup dengan meratapi gedung yang hilang atau sekadar mengutip pemikiran Cak Nur dalam pidato yang klise. Mengembalikan keaslian gerakan adalah sebuah panggilan untuk bertobat secara organisatoris. Kita menagih kembali keberanian kader tingkatan paling dasar (Komisariat) hingga pucuk organisasi (PB HMI) menjadi tauladan untuk kembali membuka buku, mengasah pena, membedah ketimpangan sosial, dan berdiri paling depan membela rakyat miskin yang terpinggirkan tanpa tersandera oleh kepentingan apa pun.
Bagi siapa pun yang pernah membaca, mempelajari, dan mencintai sejarah Diponegoro 16A, kenangan itu tidak boleh dibiarkan berdebu di lemari perpustakaan. Ia harus menjadi api gelisah yang membakar dada setiap kader. Sekretariat fisik boleh saja berpindah, tetapi martabat, ketajaman berpikir, dan kesadaran profetis yang lahir dari Diponegoro 16A adalah harga diri yang tak boleh ditawar. Selama masih ada darah perjuangan yang mengalir di nadi kader, ruh Diponegoro 16A akan terus menagih janji! bahwa HMI ada untuk kebenaran, untuk keadilan, dan untuk rakyat. Kita ada, kita mampu dan kita yakin HMI tetap menjadi Harapan Masyarakat Indonesia!
Tag: