Sabtu, 29 November 2025

Melampaui Senyap, Kolaborasi Jambi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Perempuan

 





SWARANESIA.COM— Puncak peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) 2025 di Provinsi Jambi menjadi momentum historis. Untuk itu, 28 lembaga mulai dari organisasi masyarakat sipil, komunitas adat, organisasi pemuda dan mahasiswa, kelompok perempuan, akademisi, jurnalis, seniman, penyandang disabilitas, hingga kampus UNJA dan UIN STS Jambi bersatu membentuk Koalisi Konsolidasi 16 HAKTP Jambi.

 Koalisi ini mengirim pesan tegas bahwa Jambi tidak lagi menerima budaya senyap. Jambi memilih berpihak pada keberanian perempuan.


Sebuah Gerakan yang Lahir dari Luka, Disuarakan dalam Solidaritas

 Dalam serangkaian acara seni, diskusi publik, pembacaan testimoni penyintas, serta deklarasi bersama, koalisi menyoroti bagaimana kekerasan terhadap perempuan masih terjadi di ruang-ruang yang seharusnya aman, yaitu kampus, ruang publik, dunia digital, bahkan di komunitas adat.

 Penyintas dari berbagai latar belakang tampil dengan suara bergetar namun penuh keberanian. Ada mahasiswa yang bertahun-tahun bungkam karena relasi kuasa. Ada perempuan adat yang tak bisa melapor karena akses layanan terlalu jauh. Ada perempuan disabilitas yang mengalami diskriminasi ganda. Ada jurnalis perempuan yang menghadapi kekerasan digital karena pekerjaannya. Mereka hadir, bukan sebagai korban, tetapi sebagai penggerak perubahan.


Realitas Kekerasan: Masih Dekat, Masih Terjadi, Masih Membungkam

Koalisi memaparkan temuan lapangan:

Kasus kekerasan di kampus Jambi meningkat, tetapi sebagian besar tidak dilaporkan karena stigma dan ancaman retaliasi.

Kekerasan digital seperti doxing, penyebaran foto tanpa consent, sextortion menjadi ancaman terbesar bagi perempuan muda.

Perempuan Talang Mamak dan Suku Anak Dalam menghadapi isolasi, kurang literasi digital, serta kesulitan mengakses jalur aduan formal.

Perempuan disabilitas sering tidak dianggap sebagai pemilik hak penuh atas tubuh dan ruang aman mereka.

Banyak perempuan pekerja kampus dan akademisi yang mengalami kekerasan simbolik dan struktural.

 Kondisi ini diperburuk oleh budaya senyap: diam demi menjaga nama baik, diam karena takut tidak dipercaya, diam karena tidak ada sistem perlindungan.


Koalisi ini Percaya: Mengakhiri Kekerasan Tidak Bisa Dilakukan Sendiri

 Koalisi Konsolidasi 16 HAKTP Jambi merupakan gabungan dari:

Kemitraan Partnership

SSS Pundi Sumatera

KKI Warsi

Beranda Perempuan

PEKKA Bungo

Aliansi Perempuan Merangin

PKBI

Remaja Aktif JYC

Girl Up Siginjai

Extraordinary Women

HWDI

La Linea Circle

AJI Jambi

SEAD

FIM Jambi

UTMC

Mahasiswa Koalisi Peduli Inklusi GEINSA

Komunitas Sambil Jalan

KOHATI Jambi

JISIP UNJA

GEMPITA KAT

Salim Media Indonesia

Komunitas Adat Orang Rimba/SAD

Komunitas Adat Talang Mamak

PSGAD UIN STS Jambi

PFI Jambi

Positive Mindful Indonesia

Laboratorium Ilmu Politik UNJA

 Keberagaman koalisi ini menunjukkan bahwa advokasi anti-kekerasan bukan agenda satu lembaga saja. Ini adalah perjuangan seluruh masyarakat.


Seruan Kebijakan: Jambi Harus Berani Menghapus Budaya Senyap

 Dalam deklarasi bersama, Koalisi Konsolidasi menegaskan tiga tuntutan utama:

Perlindungan nyata berbasis hak penyintas, termasuk SOP penanganan yang tidak menyalahkan korban, non-retaliasi, dan layanan psikologis jangka panjang.

Penguatan ruang aman di kampus, termasuk hotline 24 jam, Satgas PPKS beranggaran khusus, kampanye anti-KBGO, serta integrasi pendidikan gender dalam orientasi mahasiswa.

Akses keadilan untuk perempuan komunitas adat dan penyandang disabilitas, melalui jalur aduan berbasis komunitas, literasi digital, dan layanan yang inklusif.

 Koalisi juga mendesak OPD Dinas PPPA, Diskominfo, Dinas Pendidikan, Dinsos, serta Bappeda untuk membangun sistem kolaboratif berbasis data, layanan terintegrasi, serta pendanaan berkelanjutan bagi pemulihan korban.


Gerakan Kebudayaan untuk Memulihkan Ruang

 Puncak perayaan menampilkan seni pertunjukan, pembacaan puisi, bedah buku, hingga pertunjukan musik yang mengangkat suara penyintas. Seniman dan jurnalis terlibat tidak sekadar sebagai dokumentator, tetapi sebagai penyampai pesan: bahwa budaya bisa melukai, tetapi budaya juga bisa menyembuhkan.


16 HAKTP Bukan Upacara. Ini adalah Seruan Perubahan.

 Peringatan tahun ini bukan seremoni, bukan agenda seremonial tahunan.

Ini adalah konsolidasi kekuatan sipil di Jambi untuk menolak kekerasan terhadap perempuan. Koalisi menegaskan:

Kita menolak normalisasi pelecehan.

Kita menolak diam.

Kita menolak ruang pendidikan yang tidak aman.

Kita menolak kekerasan yang dibungkus dalih adat, budaya, atau kuasa.

 Jambi harus memastikan bahwa tidak ada lagi perempuan yang terpaksa memilih diam demi bertahan.


Tentang Koalisi Konsolidasi 16 HAKTP 2025 Jambi

 Koalisi ini merupakan aliansi terbuka lintas lembaga yang bergerak memperkuat ruang aman, mendorong kebijakan anti-kekerasan, serta mempromosikan nilai kesetaraan dan keberanian perempuan. Konsolidasi ini akan berlanjut sepanjang tahun melalui dialog, kajian kebijakan, advokasi publik, dan edukasi komunitas.