Kamis, 08 Oktober 2026

Bertahan hingga Malam, Kapolresta Jambi Kombes Pol Ananto Herlambang Meski Lelah, Tetap Humanis Amankan Aksi


SWARANESIA.COM – Hingga malam tiba, tugas pengamanan belum selesai. Di depan Kantor Gubernur Jambi, Kamis (8/10/2026), Kapolresta Jambi Kombes Pol Ananto Herlambang tetap berada di tengah dinamika demonstrasi yang memanas. Di hadapannya, massa menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang telah menjadi keresahan masyarakat.

Aksi yang digelar Aliansi Rakyat Jambi Marah itu bukan sekadar demonstrasi biasa. Ratusan mahasiswa dan masyarakat sipil datang membawa tuntutan agar Gubernur Jambi Al Haris bertanggung jawab atas penanganan karhutla. Mereka juga mempertanyakan transparansi penggunaan anggaran sekitar Rp30 miliar yang disebut dialokasikan untuk penanganan karhutla di Provinsi Jambi.

Bagi massa, persoalan tersebut menyangkut lebih dari sekadar kebakaran hutan. Kabut asap yang menyelimuti wilayah Jambi menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat. Mereka menginginkan langkah konkret pemerintah, termasuk penindakan terhadap pihak yang bertanggung jawab atas kebakaran lahan.

Demonstrasi dimulai sejak siang. Namun, situasi berubah tegang ketika sebagian massa berupaya menerobos gerbang kompleks perkantoran gubernur. Dorong-dorongan dengan petugas terjadi hingga pagar mengalami kerusakan. Massa juga memblokir jalan di sekitar kawasan Telanaipura, mengganggu arus lalu lintas.

Di tengah situasi itu, aparat kepolisian menghadapi tugas yang tidak sederhana: menjaga fasilitas publik, mengendalikan situasi yang terus berkembang, sekaligus memastikan pengamanan tidak kehilangan pendekatan kemanusiaan.

Kapolresta Jambi Kombes Pol Ananto Herlambang tetap mengawal pengamanan hingga malam. Waktu yang panjang dan situasi yang dinamis menuntut kesiapsiagaan personel di lapangan. Setiap perkembangan harus dipantau agar ketegangan tidak meluas dan keselamatan masyarakat tetap menjadi perhatian.

Pengamanan tersebut melibatkan sekitar 940 personel gabungan dari Polda Jambi dan Polresta Jambi.

Di tengah tekanan situasi, pengamanan demonstrasi bukan hanya perkara membentuk barikade atau membubarkan massa. Ada aspirasi yang harus didengar, emosi yang perlu diredam, dan risiko yang harus dikendalikan. Ketegasan dibutuhkan, tetapi cara bertindak aparat juga menjadi perhatian publik.

Pendekatan humanis menjadi penting justru ketika keadaan tidak berjalan mudah. Menghadapi massa yang kecewa membutuhkan kendali diri dan kehati-hatian, terlebih ketika demonstrasi berlangsung berjam-jam dan situasi di lapangan berubah semakin tegang.

Namun, aksi tersebut akhirnya berujung pada pembubaran paksa oleh kepolisian setelah situasi dinilai melewati batas waktu dan ketertiban yang ditentukan. Polisi kemudian memastikan kondisi berangsur kondusif dan massa mulai kembali ke tempat masing-masing.

Ananto menyatakan situasi telah terkendali. Meski massa mulai membubarkan diri, personel kepolisian tetap disiagakan di sejumlah titik untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Malam itu, pekerjaan aparat tidak berhenti ketika kerumunan mulai berkurang. Pengamanan tetap diperlukan untuk memastikan tidak terjadi gangguan lanjutan dan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan.

Di sisi lain, demonstrasi tersebut menyisakan pesan yang tidak bisa diabaikan. Tuntutan mahasiswa dan masyarakat tentang karhutla, kabut asap, serta transparansi anggaran merupakan persoalan yang membutuhkan penjelasan dan tindak lanjut dari pihak berwenang.

Sebab, keamanan dan penanganan karhutla merupakan dua hal yang sama-sama penting. Aparat bertugas menjaga ketertiban, sementara pemerintah dituntut menjawab keresahan publik melalui kebijakan dan tindakan nyata.

Bertahan hingga malam menjadi bagian dari tanggung jawab pengamanan. Namun, di tengah ketegangan itu, tantangan terbesarnya adalah menjaga ketertiban tanpa mengabaikan kemanusiaan dan hak masyarakat untuk menyampaikan aspirasi.