UIN STS Jambi Gunakan Eco Enzyme untuk Kelola Limbah Kurban Ramah Lingkungan
SWARANESIA.COM– UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi menunjukkan komitmen kuat terhadap pengelolaan limbah dan penghijauan kampus. Komitmen itu diwujudkan melalui langkah ramah lingkungan saat pelaksanaan penyembelihan hewan kurban tahun ini.
Melalui Korpus Lingkungan Hidup dan SDGs, kampus menyiapkan penggunaan eco enzyme pada lokasi penyembelihan kurban. Program tersebut bertujuan untuk menjaga kebersihan lingkungan selama proses penyembelihan berlangsung. Selain itu, penggunaan eco enzyme juga diharapkan mampu mengurangi pencemaran limbah organik.
Koordinator pusat Lingkungan Hidup dan SDGs, Dr. Irmawati, mengatakan persiapan sudah dilakukan sejak awal. Ia menjelaskan setiap bagian panitia kurban akan menerima satu jirigen eco enzyme. Pembagian cairan itu dilakukan saat pembukaan kegiatan penyembelihan hewan kurban.
Menurut Irmawati, eco enzyme merupakan cairan serbaguna hasil fermentasi sampah organik. Bahan utamanya berasal dari limbah buah, sayur, molase/gula aren, dan air. Cairan tersebut bersifat alami, aman, ekonomis, serta ramah terhadap lingkungan. Karena itu, eco enzyme dinilai efektif digunakan dalam pengelolaan limbah kurban.
Irmawati menjelaskan eco enzyme mampu mengurangi bau tidak sedap di area penyembelihan. “Bau dari darah, jeroan, dan sisa daging dapat diminimalkan dengan penyemprotan eco enzyme. Selain mengurangi bau, bisa juga membantu menghambat pertumbuhan bakteri,” jelasnya.
Langkah tersebut menjadi penting, sebab dapat menjaga kebersihan lingkungan sekitar lokasi penyembelihan. Tidak hanya itu, eco enzyme juga bermanfaat membersihkan saluran air dari sumbatan lemak. Dengan demikian, limbah cair tidak langsung mencemari lingkungan sekitar kampus.
Irmawati menambahkan ampas sisa eco enzyme dapat dimanfaatkan menjadi kompos cair. Kompos tersebut nantinya digunakan untuk menyuburkan tanaman di lingkungan kampus. Melalui program itu, UIN STS Jambi ingin membangun budaya pengelolaan sampah berkelanjutan. Kampus juga mendorong sivitas akademika lebih peduli terhadap kelestarian bumi.
Dalam praktiknya, eco enzyme digunakan dengan beberapa takaran berbeda sesuai kebutuhan. Untuk mencegah bau, cairan dicampurkan menggunakan perbandingan satu banding sepuluh. Campuran itu kemudian disemprotkan langsung ke area penyembelihan hewan kurban.
Sementara itu, untuk membersihkan lantai digunakan campuran satu banding dua puluh. Larutan tersebut dipakai mengepel lantai agar tetap bersih dan bebas bau.
Adapun untuk mengatasi saluran air, eco enzyme dicampur dengan perbandingan satu banding sepuluh. Cairan itu kemudian dituangkan secara rutin ke saluran pembuangan air. Selain digunakan saat kurban, eco enzyme juga dapat dimanfaatkan untuk pengolahan limbah organik lainnya.
Karena itu, Korpus Lingkungan Hidup dan SDGs membuka penjualan eco enzyme bagi masyarakat umum. “Bagi warga kampus maupun masyarakat dapat membeli eco enzyme dengan harga terjangkau. Harga yang kita tawarkan Rp25.000 untuk setiap liter,” kataIrma.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian edukasi pengelolaan sampah berbasis lingkungan. Ia berharap penggunaan eco enzyme semakin luas di tengah masyarakat. Dengan begitu, kesadaran menjaga lingkungan dapat tumbuh melalui langkah sederhana dan berkelanjutan.
