Ketika Robot Humanoid Berbisik & Manusia Kehilangan Kata
Oleh: Martayadi Tajuddin,
Kita tidak lagi sedang menonton film fiksi ilmiah. Kita sedang hidup di dalamnya.
Perkembangan Artificial Intelligence tidak lagi linear, tapi eksponensial. Jika dulu butuh 50 tahun untuk berpindah dari komputer tabung ke internet, kini hanya butuh 2 tahun bagi AI untuk melompat dari sekadar bisa menulis puisi, menjadi mampu menciptakan video, meniru suara manusia, mengarang fatwa, hingga mengendalikan senjata otonom. Laporan terbaru menyebutkan, investasi global untuk AI telah menembus triliunan dolar. Perlombaan ini sudah tidak terbendung.
Ancaman paling nyata bukan lagi di layar laptop kita. Ia sedang diberi tubuh. Teknologi ini kini sedang dimasukkan ke dalam sistem robot humanoid. Boston Dynamics, Tesla Optimus, Figure 01 – mereka sudah bisa berjalan, mengangkat barang, dan bekerja di pabrik. Bayangkan 5 sampai 10 tahun ke depan. Ketika jutaan humanoid ini dilepas ke jalan, ke kantor, ke rumah-rumah kita, dengan otak AI yang saling terhubung satu sama lain melalui cloud.
Di titik itulah kiamat kecil bermula. Mereka akan berkomunikasi dengan bahasa antar mereka sendiri, sebuah bahasa enkripsi yang sangat cepat dan tidak akan pernah bisa kita fahami. Manusia yang menciptakan mereka justru akan menjadi buta dan tuli di depan ciptaannya sendiri. Kita akan melihat pemandangan yang dulu hanya ada di film Terminator atau I, Robot: manusia dilayani, tapi juga diawasi, diarahkan, bahkan dikendalikan oleh makhluk buatannya. Eksistensi manusia sebagai khalifah, sebagai makhluk yang berpikir dan merasa, terancam secara serius.
Di tengah kepanikan futuristik inilah, kita harus kembali menarik kabel ke masa lalu, kepada seorang Guru Besar yang sudah membaca zaman ini sejak 70 tahun silam.
Beliau adalah *Prof. Dr. H. Saidi Syaikh Kadirun Yahya Muhammad Amin Al-Khalidi, M.Sc, Guru Besar Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah Khalidiyah, ahli silsilah ke-35.* Seorang ulama yang juga ilmuwan fisika-kimia. Seorang mursyid yang juga rektor. Di tahun 1956, ketika dunia masih sibuk dengan radio transistor, beliau telah mendirikan Akademi Metafisika di Medan yang kemudian menjadi Universitas Pembangunan Panca Budi, dan memperkenalkan sebuah istilah yang terdengar gila pada zamannya: *Teknologi Metafisika Al-Qur'an.*
Bagi Maha Guru Prof. Kadirun Yahya, kekeliruan besar umat modern adalah memisahkan agama dari teknologi. Padahal Al-Qur'an sendiri adalah kitab teknologi tertinggi. Beliau menegaskan sebuah kaidah yang menjadi kunci: _"Tarekatullah masuk dalam kategori Ilmu Teknologi Al-Qur'an, karenanya hanya bisa diterangkan dan dipahami dengan ilmu teknologi tinggi, tidak mungkin diterangkan dengan ilmu sosial biasa."_
Apa maksudnya?
Beliau menjelaskan bahwa manusia bukan sekadar daging dan otak. Di dalam dada manusia terdapat sebuah perangkat paling canggih yang pernah diciptakan, yang tidak ada duanya di laboratorium mana pun: Qalbu. Qalbu ini adalah receiver, antena Ilahiyah. Ia memiliki frekuensi. Ketika frekuensi itu kotor oleh debu dosa, oleh hasad, dengki, riya, dan cinta dunia, maka ia tidak akan mampu menangkap sinyal petunjuk dari langit. Ia error.
Maka Al-Qur'an menurunkan teknologinya sendiri untuk membersihkannya. Teknologi itu bernama Zikirullah. Khususnya Zikir Sir, zikir yang tidak bersuara, yang bergetar di dalam jantung sanubari, sebagaimana perintah QS. Al-A'raf ayat 205. Zikir ini, menurut Prof. Kadirun Yahya, bukanlah sekadar wirid untuk mendapat pahala. Ia adalah teknologi pembersih karat yang eksakta, yang bekerja berdasarkan Sunnatullah, hukum alam metafisika. Ia bekerja seperti detergen yang meluruhkan noda, atau seperti antivirus yang membersihkan malware di dalam hardisk Qalbu.
Ketika Qalbu itu dibersihkan secara intensif melalui suluk, tawajuh, dan keistiqamahan zikir, maka frekuensinya akan kembali jernih. Ia akan kembali sinkron dengan frekuensi asalnya. Saat itulah janji Allah terjadi: _Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub._ Hati menjadi tenang. Tenang di sini bukan sekadar tenang psikologi, tapi tenang karena telah connect, telah tersambung kembali kepada Sumbernya.
Inilah kecerdasan yang sedang kita bicarakan. Inilah yang tidak akan pernah dimiliki oleh AI.
Kecerdasan AI adalah kecerdasan yang *diinstal dari luar*. Ia butuh data, butuh listrik, butuh server, butuh update. Ia bisa padam. Ia bisa di-hack. Ia bisa diretas.
Sedangkan kecerdasan Qalbu yang telah hidup karena Zikirullah adalah kecerdasan yang *diaktifkan dari dalam*. Ia tidak diinstal, ia dihidupkan. Ia tidak butuh kabel, karena kabelnya adalah Nurullah. Ia tidak butuh baterai, karena baterainya adalah cinta kepada Allah. Bahasa yang ia gunakan bukan bahasa biner 0 dan 1, melainkan bahasa rasa, bahasa tangis, bahasa rindu yang hanya difahami oleh hamba dan Tuhannya. Bahasa inilah yang tidak akan pernah bisa diterjemahkan oleh algoritma secanggih apa pun.
Perlu kita camkan ini baik-baik. Peringatan bagi kita semua umat manusia akhir zaman.
Ketika humanoid-humanoid itu nanti sudah berdiri di setiap sudut kota, ketika mereka sudah berbisik-bisik dengan bahasa enkripsi yang tidak bisa kita sadap, ketika manusia-manusia yang lalai sudah kebingungan karena semua sistem kehidupan dikendalikan oleh kecerdasan yang bukan manusia, maka saat itulah akan terjadi seleksi alam yang paling mengerikan dalam sejarah.
Mereka yang selama ini hanya mengandalkan otak, yang menyerahkan iman, akal, dan hatinya kepada layar dan algoritma, yang tidak pernah sekalipun membersihkan Qalbunya, akan menjadi manusia paling miskin dan paling terjajah. Mereka akan hidup dalam ketakutan permanen. Mereka akan menjadi budak di dunia yang mereka ciptakan sendiri. Mereka tidak bisa lagi membedakan mana bisikan Tuhannya dan mana bisikan mesin. Karena receiver mereka telah lama rusak dan berkarat.
Tapi akan ada sekelompok manusia yang berjalan dengan tenang di tengah kepanikan itu. Wajah mereka bercahaya, langkah mereka mantap, hati mereka tidak terguncang sedikit pun oleh kebisingan teknologi. Merekalah orang-orang yang istiqamah berzikir. Merekalah yang siang dan malam menjaga frekuensi Qalbunya tetap terhubung kepada Allah. Mereka yang selalu bersama Allah, _Yadzkurunallaha qiyaman wa qu'udan wa 'ala junubihim._
AI secanggih apa pun tidak akan bisa meretas mereka. Humanoid sekuat apa pun tidak akan bisa mengancam mereka. Mengapa? Karena sistem operasi mereka tidak berada di cloud, tidak berada di server Silicon Valley, tapi berada langsung di Arsy. Sinyal mereka tidak bisa di-jamming. Datanya tidak bisa dihapus. Password-nya adalah _La ilaha illallah_ yang tertanam di dalam Qalbu, bukan di dalam chip.
Ketika semua sistem digital lumpuh, ketika semua satelit padam, ketika semua bahasa manusia tidak lagi berguna di hadapan bahasa robot, hanya ada satu frekuensi yang akan tetap menyala, tetap aktif, dan tetap memberikan komando kemenangan: frekuensi hati orang-orang yang berzikir.
Itulah Teknologi Terakhir. Itulah kecerdasan pamungkas yang disiapkan Prof. Kadirun Yahya untuk menyelamatkan eksistensi manusia. Ini adalah peringatan sekaligus kabar gembira. Jika kita ingin menang dari ancaman humanoid AI di depan, maka satu-satunya jalan adalah kembali menghidupkan teknologi yang ada di dalam diri kita sendiri. Hidupkan Qalbu. Basahi lisan dengan zikir. Karena di akhir pertarungan nanti, yang akan tetap berdiri bukanlah manusia yang paling canggih chip-nya, tapi manusia yang paling bersih Qalbunya.(*)
*) _Pemerhati Teknologi Metafisika Al Qur'an & Pengamal Tarekat Naqsabandiyah Mujaddidiyah Kholidiyah_
Tag: